Kamis, 27 Februari 2014

Beriman di Arus Jaman

Beriman Di Arus Jaman (buku indie)


Mempelajari agama itu menarik, tapi juga bisa tidak menarik. Agama seakan telah menjadi artefak kuno yang hanya bisa kita temukan di museum-museum, tempat di mana orang-orang ‘kuno’ masih mau berdoa dan beribadah. Bila memperhatikan prosentase, berapa persen sih orang yang datang  ke tempat ibadah? Tapi kalau berdebat tentang agama, hampir semua orang bisa menjadi ahli agama saat itu. Sementara itu, agama sepertinya harus berbicara dengan konteks yang baru. Ada perbedaan antara beragama dan beriman. Orang beragama belum tentu beriman, demikian juga sebaliknya. Iman menghadapi tantangan baru, di antaranya karena pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi, budaya globalisasi, dan arus modernisme. Masih mungkinkah orang sungguh beriman di arus itu?
Manusia yang seharusnya menjadi pusat perhatian atas seluruh kebudayaannya, nyatanya telah digeser. Tuhan, posisinya tergantikan dengan uang.

di hadapan uang, semua manusia beragama sama.

hubungan antar manusia, bukan lagi hubungan yang melibatkan perasaan, tapi relasi fungsional, sejauh saling menguntungkan, relasi bisa dibuat dan diikat. Tidak ada semangat pengorbanan. Apalagi, berkorban demi yang dia imani. Relasi antar pemeluk agama menjadi semakin kering dan saling mengancam.
teknologi, tidak lagi membantu manusia manusia untuk semakin mencapai kesejahteraan yang sebenarnya. Tapi sebaliknya, teknologi menjadi saingan manusia. Hal ini misalnya sangat dirasakan dalam dunia kerja. Tenaga manusia hampir semua digantikan oleh mesin.
ketimpangan sosial semakin nyata antara mereka yang mampu mengakses mesin dan mereka yang tidak mampu. Jurang antara kaya dan miskin semakin lebar, bukan hanya semakin lebar. Mereka seakan terpisah. Mereka dipisahkan oleh kasta sosial yang baru, tapi sekaligus disatukan oleh kepentingan pasar.
Dalam situasi semacam itu, masihkah kita berbicara tentang iman?
Saya dalam rangka itu, saya menerbitkan sebuah buku: Beriman di Arus Jaman. Tentu ini hanya sebuah pengantar. Di dalamnya berbicara tentang iman dan ilmu yang saya lihat sebagai kata kunci untuk memahami seluruh uraian berikutnya. Iman dan Ilmu memiliki metodologi yang berbeda. Iman adalah semacam ajaran, pewahyuan dari Allah kepada manusia. Ilmu merupakan buah penelitian manusia atas kenyataan di sekitarnya. Keduanya kadang tidak menemukan titik temu. Misalnya, bagaimana menjelaskan Adam dan Hawa sebagai manusia pertama.
Penghargaan pada otonomi metode masing-masing jelas diperlukan. Meskipun penemuannya berbeda, tapi tak bisa kemudian dijudge sebagai sesuatu yang salah. Sejauh metodenya bisa dipertanggungjawabkan, seharusnya hasilnya diterima dan dikaji ulang. Yang saya tekankan kemudian adalah peran dan sumbangan masing-masing bidang. Ilmu berperan kepada iman agar iman semakin jernih melihat permasalahan yang ada dalam kehidupannya dengan berbagai dimensinya. Sedangkan iman berperan untuk menyaring kajian ilmu secara moral.
Ada yang bertanya, masih pentingkah moralitas di jaman ini? buku ini berusaha untuk memberikan jawabannya.

BAB I    Pendahuluan ………………………………….........................     2
BAB II     Beriman  …………………………………………………………….    12
BAB III    Ibadah Sebagai Perayaan Iman …………………………………      26
BAB IV    Iman dan Science ………………………………………………….    36
BAB V     Moral Awal Hidup Manusia ……………………………………      46
BAB VI    Martabat Hidup Manusia dan Prinsip –Prinsipnya …………        57
BAB VII   Moral Akhir Hidup Manusia……………………………………   64
BAB VIII  Seksualitas Manusia………………………………………………  73
BAB IX    Moralitas Perkawinan  ...............………………………………….   86
BAB X     Kerja Sebagai Ibadah Dan Aktualisasi Diri …………………        96
BAB XI    Iman Dalam Tanggung Jawab Sosial  ……………………………107
BAB XII   Iman dan Politik ……………..……………………………………  118
BAB XIII  Merayakan Keberagaman …………………………………….     126
BAB XIV  Moralitas Terhadap Lingkungan ……………………………….   138
BAB XV     Beriman di Arus (Pos)Modernisme…………………………….. 145

Buku tersebut saya tulis secara ekumenis, dalam arti dengan dua sudut pandang antara Kristen pada Umumnya dengan Katolik. Sementara kajian-kajian dari agama lain hanya saya gunakan sebagai referensi. Misalnya, bagaimana agama Islam dan Buddha memandang awa kehidupan manusia, bagaimana pandangan mereka tentang keberagaman agama, dll.

Beberapa Kutipan
When love feels like magic, you call it destiny. When destiny has a sense of humor, you call it serendipity. –

(Ketika cinta terasa seperti sihir, kamu menyebutnya takdir. Saat takdir berubah menjadi sebuah humor, kamu menyebutnya kejutan yang menyenangkan.)

Konon, kalau sudah cinta itu tahi kucing bisa rasa coklat. Saya rasa ini lebih sebagai perumpamaan dari pada kenyataan. Meskipun anda sedang jatuh cinta, saya tidak terlalu yakin anda mau makan tahi kucing, apalagi kalau harus berdua. Maksudnya, kekuatan cinta memberi anda kemampuan untuk berkorban. Meskipun cinta itu masih bisa didiskusikan lebih lanjut, tapi cinta tidak bisa dilepaskan dari kodrat manusia sebagai makhluk seksual. (hal. 73)

Cinta itu buta. Ini hanya berlaku ketika pacaran. Setelah menikah, biasanya pasangan langsung sembuh dari kebutaan. Ketika pacaran, kita tidak senang kalau ada orang lain membicarakan kejelekan pasangan kita. Kalau sudah menikah, kita sendiri yang membicarakan kejelekan pasangan. Saya sendiri tidak ingin mengatakan cinta itu buta. Cinta itu lebih ke perasaan sehingga memang tidak rasional. Demi cinta yang emosional ini, orang rela mengorbankan semuanya (hal.  86)

"Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya. Berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya. Semua merupakan Satu Keluarga Besar."

Soegija

Thomas Hobbes pernah mengatakan bahwa manusia pada dasarnya homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi yang lain. Lebih lanjut, dia mengatakan omnia contra omnes. Semua melawan semua. Teori ini sangat terkenal dalam teori kenegaraan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sangat kelihatan dalam pergaulan. Orang lain, entah sama entah berbeda, menjadi ancaman bagi yang lain. Dalam dunia bisnis, anda mungkin mengalaminya di mana semua saling berusaha dan menjegal satu dengan yang lain. Atasan bisa memperlakukan karyawan sebagai saingan. Bawahan bisa merasakan atasan sebagai pemeras. Antar bawahan bisa saling menjatuhkan. Kita bisa melihat fenomena semacam ini di hampir semua segi kehidupan. Termasuk di dalamnya hidup beragama. Dalam kesempatan ini, saya ingin menggunakan teori Hobbes tersebut sebagai sebuah pengantar pembahasan tentang pluralitas, khususnya pluralitas agama di dalam kehidupan kita. (hal. 126)

Sedikit sekali orang yang memiliki hartanya sendiri. Hartalah yang memiliki mereka (Robert G. Ingersoll)

Sedikit sekali orang yang memiliki hartanya sendiri. Hartalah yang memiliki mereka. Masa sekarang, kalimat tersebut memiliki kebenaran yang misterius. Misterius karena penuh teka-teki dan berada di bawah sadar masyarakat. Seorang, tidak mengelola hartanya, tapi sebaliknya, mereka dikelola harta yang mereka miliki. Kehilangan harta lebih membuat stress daripada kehilangan kehormatan. Orang mau menjual cinta, bahkan iman, demi harta. Itulah sebuah dunia yang penuh dengan kepalsuan. (hal. 145)

Penulis: Herulono Murtopo
Terbitan Indie Publisher, Depok
ISBN 978-602-281-086-1
Tebal: 162 Hal + cover

Jumat, 26 April 2013

Prinsip Confidentiality dalam kedokteran


Confidentiality berasal dari kata bahasa latin con (dengan) + fidere (kepercayaan). Oleh karena itu confidence mengisyaratkan sebuah hubungan yang berdasarkan kepercayaan dimana seseorang mempercayakan suatu rahasia kepada orang lain yang dia percayai. Ini tentu saja mengandaikan suatu kepercayaan yang bulat kepada orang lain dengan suatu pengharapan bahwa orang lain itu akan menjaga rahasia yang dia ungkapkan kepadanya.
Dalam bidang kedokteran, menjaga kerahasian ini sudah menjadi kewajiban profesi yang sudah dikenal sejak dulu kala. Sumpah Hippokrates yang menjadi dasar sumpah dokter diseluruh dunia sudah mengenal hal ini. Dalam sumpah itu antara lain dikatakan,’ Apapun yang saya lihat dan dengar dalam rangka profesiku ataupun juga diluar profesiku dalam perjumpaanku dengan orang-orang, jika ini merupakan sesuatu yang tidak boleh saya ungkapkan, saya tidak pernah akan menyebarkannya dan akan memegangnya sebagai rahasia yang suci…”
Memegang rahasia ini mengandung suatu penghargaan, cinta, dan penghormatan terhadap orang lain. Tanpa adanya penghargaan itu maka akan dirasa adanya sesuatu yang hilang dalam hubungan antar pribadi. Hubungan ini menjadi penting artinya bagi hubungan antara tenaga medis dan pasien dimana pasien yang datang dalam posisi  lemah dan dalam banyak hal dia menyerahkan seratus persen segala sesuatunya kepada dokter. Dilain pihak, seorang dokter berada dalam posisi yang sangat kuat dimana dia punya pengetahuan yang tidak dipunyai pasien. Dengan kemampuan intelektual dan skillnya, seorang dokter bisa mengetahui banyak hal mengenai keadaan/kelemahan seorang pasien. Walaupun dokter mengetahui banyak rahasia dari pasien dan punya pengetahuan yang lebih dari pasien, tetapi hal ini tidak boleh mengurangi respek terhadap pasien dalam menhormatinya sebagai seorang pribadi dan bukan hanya sekedar simptom penyakit. Disinilah perlunya seorang yang dalam posisi kuat untuk bersikap rendah hati dan menghormati orang lain dengan respek.
Ada beberapa alasan mengapa orang punya kewajiban untuk merahasiakan sesuatu: Pertama-tama secara natural, setiap manusia punya hak untuk mempunyai rahasia sebab akal budi dan kehendak kita ini tidak boleh dilecehkan. Dalam keadaan normal dan tanpa alat, tak seorangpun manusia bisa memasuki akal budi dan kehendak manusia secara fisik. Oleh karena itu, pengetahuan dan pikiran yang dimiliki oleh seseorang adalah milik pribadi seseorang yng menjadi rahasianya sendiri.
Alasan yang kedua berdasarkan pemahaman bahwa manusia itu menjalani hidupnya dalam sebuah masyarakat manusia lainnya. Oleh karena itu, kerahasiaan itu perlu untuk menjaga ketentraman dan kesejahteraan umum. Kita tidak boleh menyelidiki kelemahan dan kekurangan yang menjadi rahasia tetangga kita dan menyebarkannya. Ini akan menjadi hal yang amat merusak ketentraman dan kedamaian umum. Malahan kalau rahasia itu disimpan baik-baik akan menjadi sarana untuk mengurangi kejahatan dan membuat ketentraman umum. Orang yang reputasinya jelek akan menjadi mudah untuk berbuat jahat dari pada orang yang punya reputasi baik. Pengungkapan kejahatan akan menjatuhkan reputasi seseorang.
Menjaga kerahasiaan ini penting untuk setiap orang baik sebagai pribadi maupun yang menyangkut profesinya. Dalam hal ini, kita bisa membedakan rahasia itu kedalam dua kategori, yakni rahasia yang bersifat natural dan rahasia  yang bersifat jabatan.
Rahasia natural ialah sebuah rahasia yang bisa diketahui oleh seseorang namun dia ingin agar tidak dibuka. Kewajiban untuk menyimpan rahasia jenis ini ialah demi keadilan atau cinta kasih. Jika membuka rahasia itu menyebabkan ketidaknyaman bagi orang itu, maka pembukaan rahasia itu melawan cinta kasih. Jika pembukaan itu, disamping menyebabkan ketidaknyamanan, maka ditambah lagi kerugian material atau menjatuhkan reputasi orang yang punya rahasia itu, maka pembukaan rahasia itu melawan rasa keadilan.
Rahasia jabatan adalah sebuah rahasia yang dipegang oleh karena posisi profesional seseorang untuk menerima rahasia itu. Rahasia itu mengikat demi keadilan.Tugas seorang profesional untuk menyimpan rahasia itu hanya secara implisit terkandung didalam jabatannya dan tidak dinyatakan secara explisit, tetapi ia tetap punya  kewajiban didalam jabatannya dan tidak dinyatakan secara explisit, tetapi ia tetap punya kewajiban menyimpannya. Misalnya saja: seorang dokter yang masuk ruang prakteknya,ia harus sadar bahwa dia mempunyai kewajiban untuk menjaga kerahasiaan pasien walaupun dalam hubungan dokter-pasien itu tidak dinyatakan secara eksplisit bahwa dokter harus menjaga kerahasiaan pasien. Dokter harus menjaga kerahasiaan itu dan hanya boleh dipergunakan sejauh dibutuhkan untuk proses kesembuhan pasien itu.
Penyalahgunaan kerahasiaan akan merusak kepercayaan, baik kepada orang yang bersangkutan maupun kepada institusi di mana orang itu berada. Dalam relasi dokter pasien, hal ini akan merusak seluruh proses penyembuhan yang diperlukan oleh seorang pasien. Dalam relasi imam-umat, pembukaan rahasia itu akan merusak hubungan imam-umat dan tugas penggembalaan pada umumnya.

Penerapan
Masalah confidentiality ini diterapkan hampir pada semua aspek profesional kehidupan. Dalam hubungan dokter-pasien, confidentiality ini menjadi masalah yang sangat penting dan dilindungi undang-undang. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur kerahasiaan ini ialah Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 48 ayat 1 menyebutkan,” Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.” Dalam kedokteran mempunyai kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.”
Kewajiban tenaga medis untuk menjaga kerahasian ini berlangsung sejauh pasien berhak untuk dirahasiakan. Kewajiban ini berdasarkan pada hak natural pribadi manusia dan juga kewajiban untuk menjaga rahasia profesi. Kewajiban menjaga rahasia profesi ini lebih berdasarkan demi kebaikan bersama, walaupun demikian juga tetap merupakan kewajiban. Tugas untuk menjaga rahasia profesi (jabatan) ini perlu untuk menjaga kebaikan bersama dan tata tertib masyarakat.
Oleh karena itu, sebuah pertanyaan bisa diajukan, “ kapan seorang tenaga medis boleh atau harus membuka rahasia pasien?” Oleh karena rahasia jabatan itu dibuat demi kbaikan bersama dan tata tertib masyarakat, maka dalam situasi tertentu dimana merahasiakannya justru menyebabkan kerusakan kebaikan bersama dan tata tertib masyarakat, maka kewajiban untuk menjaga rahasia itu sudah berhenti. Dia boleh membuka rahasia itu dan dalam situasi tertentu malah wajib membukanya. D Indonesia, penyingkapan rahasia kedokteran ini diatur oleh UU nomor 29 tahun 2004 tentang praktek Kedokteran pasal 48 ayat 2.” Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.”
Dalam kasus-kasus tertentu, seseorang pasien kehilangan hak untuk dijaga kerahasiaannya bagi pasien itu menjadi agresor yang membahayakan pihak ke tiga. Misalnya, ada orang yang berobat kepada dokter atau psikotherapist dan  dokter mendapati bahwa orang ini gila dan sngat membahayakan masyarakat, maka dokter itu wajib memberitahukan kepada masyarakat bahwa dia ini gila dan berbahaya. Demikian juga seorang yang mengidap HIV positif. Dokter wajib untuk memberitahukan penyakit itu kepada mereka yang biasa berhubungan dengannya supaya orang lain tidak tertular. Akan tetapi, harus senantiasa diingat bahwa seorang pasien berhak untuk mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya mengenai penyakitnya dan therapy yang sudah dan akan dilaksanakan.

Informed Consent


sering kali, ketika kita datang ke dokter, dokter sepertinya menjadi seorang raja diraja yang mengucapkan kata seperlunya berupa perintah-perintah yang harus ditaati pasien. saya sendiri sering mengalaminya, dan tentu saja, kita harus berani protes. model semacam itu, model jaman dulu yang bersifat 'paternalistik'. sekarang, para pasien dan dokter berada dalam level yang sama, yang dibedakan secara fungsional saja. ada yang namanya informed consent. sayangnya, hak semacam ini juga belum banyak diketahui pasien. intinya, pasien punya hak untuk mendapatkan informasi sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya tentang tindakan medis yang akan dia terima.

Dalam bahasa Indonesia, Informed consent sering diterjemahkan dengan persetujuan setelah mendapatkan informasi. Informed consent adalah otorisasi (pemberian wewenang) yang diberikan secara otonom oleh pasien atau subjek untuk dapat memberikan intervensi medis atau keikutsertaan dalam sebuah riset. Seseorang hanya bisa memberikan informed consent bila dia mengerti dan bebas dari tekananorang lain dan secara sadar memberi wewenang kepada tenaga medis untuk melakukan intervensi medis. Kalau orang tersebut mengerti, bebas, dan sadar menolak untuk memberikan otorisasi tersebut, maka dia disebut memberikan informed refusal.
Prinsip informed consent dibangun atas dasar martabat manusia dan inviolability hidup manusia. Prinsip ini dirancang untuk melindungi otonomi dan integritas seorang individu di mana orang berhak menentukan pilihannya sendiri secara bebas berdasarkan pemahaman yang memadai untuk membuat pilihan itu. Kebebasan memilih dalam hal intervensi medis adalah tubuh pasien dan bukan tubuh si dokter sehingga dokter tidak boleh seenaknya membuat sesuatu terhadap tubuh yang bukan kepunyaannya sendiri.
Di beberapa tempat, juga di Indonesia, informed consent dipahami dengan sangat legalistis di mana seorang pasien atau subjek menandatangani sebuah persetujuan untuk diadakannya intervensi medis (operasi). Biasanya, sebelum diadakan operasi, pasien atau walinya disodori sebuah kertas untuk ditandatangani. Pemahaman yang legalistis ini tentu saja tidak mencukupi. Informed consent sebenarnya bukan merupakan sebuah titik tetapi sebuah proses untuk sampai pada tujuan aakhir yaitu persetujuan dan otoritasisasi. Supaya persetujuan itu bisa valid secara hukum dan moral, diperlukan suatu proses yang benar untuk memperolehnya. Elemen-elemennya:
  • Unsur permulaan
    • Kompetensi untuk mengerti dan memutuskan
    • Kesediaan di dalam membuat keputusan
  • Unsur informasi
    • Pemberian informasi
    • Rekomendasi sebuah perencanaan
  • Pemahaman atas informasi
    • Unsur persetujuan
    • Keputusan atas rencana itu
  • Otorisasi (pemberian wewenang) untuk melakukan rencana itu

Masing-masing elemen ini sangat penting untuk diperhatikan dengan seksama supaya validitas moral dan hukumnya bisa terjaga.
Kompetensi, yang mempunya kompetensi  untuk memberikan persetujuan medis adalah orang yang punya hak untuk memberikannya, bisa mengerti, dan sadar serta mampu memutuskan. Pertama-tama yang punya kompetensi  pasien sendiri, sebab intervensi medis itu akan dikenakan pada tubuhnya. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, di mana pasien tidak sadar atau belum umur, maka yang menjadi walinya: dalam hal anak-anak di bawah umur, walinya adalah orang tuanya, kalau suami maka walinya istrinya, atau sebaliknya.
Kesediaan, di sini unsur kebebasan memegang peranan penting. Orang yang akan dimintai consent tidak boleh dipaksa baik langsung maupun tidak langsung. Kesediaan untuk memberikan persetujuan itu haruslah menjadi ekspresi kehendak diri yang bebas.
Pemberian informasi, pasien atau walinya berhak untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai penyakitnya. Informasi haruslah diberikan dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh pasien dan atau walinya dengan tetap memperhatikan keadaan psikologis atau mental pasien. Dalam memberikan informasi ini, dibutuhkan cara-cara yang tetap dan skill yang memadai agar tidak merusak seluruh proses theraphy. Informasi ini menyangkut beberapa hal, misalnya jenis penyakit, penyebab penyakit, akibat penyakit, situasi penyakit itu (gawat atau tidak), model (jenis) penyembuhan dan perawatan yang tersedia beserta untung ruginya. Informasi yang diberikan haruslah jujur dan jangan memberi harapan palsu kepada pasien atau keluarganya.
Rekomendasi, setelah memberikan informasi yang adekuat  mengenai penyakitnya, lalu dokter manwarkan sebuah rencana intervensi medis/perawatan sesuai dengan apa yang dipandang paling baik (feasible) oleh dokter demi pasien. Dalam rekomendasi ini juga dibicarakan mengenai alternatif pengobatan yang ada, resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis keberhasilan atas tindakan medis yang dilakukan. Perlu diingat bahwa dalam tahap ini tetap merupakan rekomendasi yang dianjurkan oleh dokter dan teamnya.
Pemahaman atas informasi, tahap ini paling krusial. Dalam tahap ini, pasien atau walinya harus mengerti apa yang diterangkan dan direkomendasikan  (tahap 3-4) di atas. Bila belum paham, tahap ini bisa diulang.
Keputusan atas rencana, tawaran atas rencana intervensi medis itu harus diputuskan  oleh pasien sendiri dan/atau walinya. Kalau keputusan itu tidak seperti diharapkan oleh dokter, maka dokter harus menghormatinya. Tentu saja demi kebaikan kedua belah pihak, pasien juga harus membuat pernyataan atas pilihannya itu.
Otorisasi, kalau tahap-tahap itu (1-6) sudah dilalui dengan baik, maka sekarang pasien dan walinya bisa memberikaan otorisasi kepada dokter untuk melakukan intervensi medis. Otorisasi dari pasien diwujudkan dalam bentuk menandatangani blanko informed consent. Otorisasi dari pasien inilah yang memberikan hak kepada dokter untuk melakukan intervensi medis kepada pasien. Tanpa otorisasi ini, seorang dokter tidak boleh melakukan tindakan medis kepada pasien.

Penerapan
Informed consent ini biasanya diterpkan terutama dalam kasus-kasus berat yang menyangkut nyawa atau integritas seseorang. Dalam kasus-kasus ringan, misalnya masuk angin, tidak diperlukan informed consent.Akan tetapi selalu dianjurkan supaya dokter memberikan informasi yang memadaimkepada setiap pasien yang datang padanya.
Ada beberapa keadaan dimana informed consent tidak diperlukan :
Dalam emergensi. Dalam kasus emergensi informed consent ini bisa diandaikan. Pengandaian ini berdasarkan pengandaian umum  dimana orang yang sakit menginginkan kesembuhan dan orang datang kerumah sakit itu dalam rangka mencari kesembuhan. Misalkan ada orang yang kecelakaan dan dibawa keruang unit gawat darurat sebuah rumah sakit yang secara medis memerlukn intervensi medis segera,maka team dokter tidak perlu menunggu informed consent untuk melakukan intervensi medis. Demikian juga kalau pasien tidak sadar dalam keadaan gawat darurat dan tidak ada orang yang berhak untuk dimintai persetujuan.Akan tetapi ini tidak berarti seenaknya, sebab dalam setiap unit gawat darurat itu sudah ada ‘protap’ (prosedur tetap) yang menerangkan bagaimana seorang dokter harus menangani pasien yang masuk IGD.
Kedaruratan keadaan ini dinilai berdasarkan faktor-faktor sbb:
-       Ada resiko kematian yang jelas dan mendesak
-       Waktu yang diperlukan unuk mendapatkan informed consent itu akan mengandung resiko serius akan kemungkinan penyembuhan pasien itu atau meningkatkan kemungkinan kematian pasien atau sakit yang fatal.
-       Pasien sendiri memberikan signal yang jelas bahwa dia tidak mampu memberikan persetujuan
Melepaskan haknya. Bisa terjadi bahwa pasien melepaskan haknya untuk menjalani proses informed consent itu dan langsung percaya untuk menandatangani blangko. Ada berbagai motivasi mengapa pasien melepaskan haknya untuk informasi itu, misalnya orang yang berpendidikan sangat rendah atau tidak siap menerima informasi penyakitnya.Dalam proses inipun seorang pasien harus bebas, tanpa tekanan langsung maupun tidak langsung.
Pasien yang memberikan informed refusal juga harus menandatangani pernyataan supaya kelak kemudian hari kalau ada komplikasi penyakit atau hal-hal yang tak terduga, maka tenaga medis atau rumah sakit tidak dituntut.
Informed consent ini bila dilakukan secara benar maka akan sangat mengurangi tuduhan mal praktek kepada para tenaga medis. Yang sering terjadi ialah dokter memberikan informasi yang kurang lengkap atau menyesatkan atau memberikan harapan palsu kepada pasien / walinya . Maka ketika terjadi kematian, misalnya, orang akan menuntut dokter/rumah sakit bahwa telah terjadi malpraktek. Padahal mungkin kematian itu merupakan konsekwensi logis dari keadaan penyakitnya itu.
Di Indonesia, Informed consent itu diatur oleh UU nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, pasal 45. (1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksudkn pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapatkan penjelasan secara lengkap. (3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)  sekurang-kurangnya mencakup : a. diagnosis dan tatacara tindakan medis : b. tujuan tindakan medis yang dilakukan; c. alternatif tindakan lain dan resikonya; d. resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. (4) persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. (5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung resiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.

Kamis, 06 September 2012

mendengarkan suara hati


Kata "suara hati", mungkin dapat kita mengerti dengan mudah karena kebiasaan saja. Artinya, kita sudah akrab dengan istilah suara hati. Namun, sering kali masih cukup bias untuk mengartikan suara hati. Suara hati biasa kita lihat sebagai hati nurani. Suara terdalam manusia. Hati nurani adalah  intuisi yang memandu kita untuk memberikan penilaian benar dan salah.  Secara psikologis hati nurani sering digambarkan sebagai institusi yang menyebabkan perasaan menyesal bila seorang manusia melakukan tindakan yang bertentangan / nya nilai-nilai moral dan perasaan kejujuran atau integritas ketika tindakan tersebut sesuai dengan norma-norma.  Sejauh mana hati nurani moral yang memberikan informasi ‘penghakiman diri’ sebelum tindakan dan apakah seperti penilaian moral  harus didasarkan pada alasan telah disebabkan perdebatan melalui banyak dari sejarah filsafat Barat .
Hati Nurani adalah kesadaran akan kewajiban berhadapan dengan sistuasi konkret yang saya hadapi kini dan disini. Berkaitan dengan adanya kesadaran tentang perbuatan dan tentang pelaku. Suara hati berfungsi sebagai vindex (menilai perbuatan yang telah berlangsung), sebagai index  (menilai perbuatan yang akan datang), sebagai ludex (menilai perbuatan yang sedang dilakukan). Kemutlakan hati nurani, tuntutannya mutlak, tidak dapat di tawar-tawar. Memerintahkan tanpa syarat (imperatif kateoris). Mengikuti hati nurani merupakan hak dasar bagi setiap orang. Hati nurani adalah norma terakhir bagi perbuatan-perbuatan kita[1]. Hati nurani bisa keliru tuntutannya mutlak tapi belum tentu benar.
Suara hati memiliki sifat personal dan adipersonal. Dikatakan bersifat personal karena selalu berkaitan erat dengan pribadi yang bersangkutan dan hanya memberi penilaiannya tentang perbuatan saya sendiri. Sedangkan, dikatakan bersifat adipersonal, karena Hati nurani (Nur = cahaya) berarti hati yang diterangi, terhadap hati nurani seakan kita menjadi “pendengar”, mempunyai aspek transenden, yang melebihi pribadi kita, dan karena aspek adipersonal ini, hati nurani memiliki dimensi religius. Penentuan baik buruk , benar salah. Perbuatan yang dilakukan atas desakan hati nurani belum tentu secara objektif juga baik.Yang sebenarnya mau diungkapkan bukanlah baik buruknya perbuatan itu sendiri, melainkan bersalah tidaknya si pelaku. Maka kita tidak pernah boleh bertindak bertentangan dengan hati nurani kita. Akan tetapi manusia wajib juga mengembangkan hati nuraninya dan seluruh kepribadian etisnya sampai menjadi matang dan seimbang (yang subjektif dan objektif menjadi sama).
Contohnya begini, seorang anak yang lahir dan besar di lingkungan para penjahat dan terbiasa dengan kekerasan, akan menganggap bahwa kekerasan itu hal yang wajar. Suara hatinya tidak akan menegur apa-apa, ketika dia memukuli orang yang menurutnya tidak menyenangkan. Itulah pentingnya etika. Etika secara rasional mendidik dan membentuk suara hati agar semakin tajam dan benar secara objektif.
Hati nurani butuh penyegaran, didikan, latihan, rekreasi, reorientasi, penanaman paradigma. Hati nurani merupakan pemberian Sang Pencipta yang perlu dibina. Pembinaan ini ada yang halus dan jitu, ada yang kurang tepat dan longgar, serta ada pula yang tumpul. Hati nurani yang tumpul biasanya disebabkan adanya salah didikan yang ditanamkan sejak kecil. Keadaan hati nurani (longgar, tumpul, maupun jitu), semuanya bergantung pada pendidikan lingkungan.
Orang dari jaman dahulupun sudah menyadari akan peran informasi-informasi yang didapatkan dari lingkungan terhadap perilaku manusia. Kualitas hati nurani yang dimiliki seseorang tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan. sekitar orang tersebut. Melalui lingkunganlah seseorang membentuk nilai-nilai moral dan tanggung jawab. Lingkungan merupakan menjadi sumber pengetahuan bagi hati nurani. Lingkungan yang berpengaruh itu dapat berupa keluarga, teman, pergaulan, budaya, agama, dan tradisi. Jika seseorang hidup dalam lingkungan yang baik maka hati nurani yang terbentuk akan memiliki kualitas yang baik dan
sebaliknya. Orang yang bertindak dengan mendengarkan dan manaati suara hatinya adalah orang yang bertanggung jawab dan tanggung jawab manusia tidak dapat dilepaskan dari kebebasannya.

[1] Bdk. Purwo Hadiwardaya, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta, Kanisius, 1990, hal. 15

DILEMA MORAL


Dilema Moral[1]

Lampu merah di perempatan jalan barang kali tidak diperlukan kalau saja jalanan lancar, juga di perempatan. Tapi karena jalanan kurang lancar, pengguna kendaraan tidak bisa mengatur diri dan antri dengan otomatis, maka diperlukanlah lampu merah. Sebenarnya juga, tidak diperlukan polisi yang berjaga di perempatan yang ada lampu merahnya, kalau saja masyarakat mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada dan jalanan sudah lancar. Permasalahan kemudian berkembang, tidak diperlukanlah sebenarnya pengawas kerja polisi lalu lintas, kalau saja semua polisi bekerja secara profesional tidak menerima suap dari pelanggar lalu-lintas atau tidak menjamin adanya keadilan dalam masyarakat. Tetapi, dari semua itu sebenarnya ada satu kuncinya, tidak perlulah ada semua itu, sejauh tidak ada kemacetan. Tapi toh, nyatanya kenyataan itu terjadi. Jalanan macet. Masyarakat suka melanggar lalu lintas dengan berbagai alasan. Ada oknum polisi yang suka memanfaatkan keadaan hingga menyalahgunakan wewenang. Lalu disusunlah peraturan yang harus dipatuhi bersama. Sekali lagi, semuanya tidak diperlukan kalau saja semuanya lancar dan berjalan normal.
Demikian halnya, permasalahan moral terjadi karena ada tabrakan-tabrakan nilai-nilai moral yang menyebabkan manusia harus memilih dan menentukan sikap. Seiring dengan perkembangan jaman, permasalahan-permasalahan yang barupun bermunculan. Tapi, saya rasa baik kalau kita sedikit mengkaji, dari mana akar permasalahan dilema moral itu bisa muncul. Paling tidak ada 3 hal pokok yang mempengaruhi adanya permasalahan moral. Yang pertama, adanya pluralisme sumber-sumber moral. Yang kedua adanya relativisme nilai kebenaran. Dan yang ketiga, adanya kebutuhan manusia yang dalam arti tertentu memaksa manusia meninggalkan prinsip-prinsip moralnya.
Paling tidak ada tiga sumber moral yang bahkan bisa bertabrakan antara satu dengan yang lain. Ketiga sumber moral itu adalah agama, masyarakat, dan negara. Agama bagaimanapun juga memegang peranan penting dalam mengajarkan moral. Ini tidak dapat kita sangkal. Berkaitan dengan agama maka yang jahat dikatakan sebagai sebuah dosa dan yang baik dikatakan sebagai amal saleh. Namun kenyataannya toh, kita tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa ada banyak agama. Sementara, ajaran agama ini bisa ditafsirkan secara sangat relatif bagi kebanyakan orang, ada juga yang akhirnya tidak mempercayai agama. Di dalam satu agama saja, konflik nilai moral bisa terjadi, apalagi berhadapan dengan orang-orang yang beragama lain dan mereka menganggap ini adalah sesuatu yang baik. Contohnya, ada agama yang mengatakan bahwa membunuh binatang itu jahat. Ada yang mengatakan tidak jahat, sejauh cara membunuhnya tidak menyiksa si binatang. Hal ini akan menimbulkan konflik moral yang harus disikapi dengan bijaksana akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar. Ingat, dalam keadaan yang biasa tidak akan menimbulkan permasalahan, tapi ketika ada pertentangan, etika sebagai filsafat moral harus dikaji.
Sementara itu, negara bisa juga memberikan ajaran moral yang dalam bentuk hukum dan perundang-undangan. Tidak semua ajaran agama bisa memadai untuk merumuskan ajaran moral suatu agama yang berlain-lainan. Bahkan, apa yang diajarkan oleh negara bisa sangat bertentangan dengan ajaran agama. Contohnya adalah pelegalan aborsi dan perkawinan sejenis. Ada beberapa negara yang melegalkan tindakan tersebut. Namun, hal ini tidak bisa secara tuntas menyelesaikan permasalahan moral.
Masyarakat dengan adatnya  juga memiliki ajaran moral tersendiri. Kita tahu, adat suatu masyarakat biasanya ada terlebih dahulu dibandingkan dengan agama dan negara. Itulah sebabnya, mengapa kebiasaan adat yang dinilai biadab tidak mudah untuk dihapuskan hanya dengan adanya negara dan agama. Contohnya adalah adanya kebiasaan mengayau dalam suatu daerah. Tanpa memandang bagaimana sikap orangnya, asalkan berasal dari kelompok musuh lalu seakan-akan kelompok tertentu berhak untuk melakukan pembunuhan di pihak musuh.
Permasalahan moral yang kedua bisa terjadi karena adanya relatifisme untuk menentukan nilai kebenaran. Dalam hal ini pertimbangannya jauh lebih filosofis. Banyaknya hal-hal baru, terutama berkaitan dengan tekhnologi, menuntut sebuah study khusus yang membahas hal tersebut. di bidang komunikasi, munculnya media massa dalam bentuk cetakan dan juga elektronik, bagaimanapun juga harus dikaji segi etisnya. Pada jaman kerajaan majapahit, misalnya, di Indonesia, tidak diperlukan kajian etis tentang iklan. Tapi, hal ini tidak bisa diabaikan untuk jaman sekarang. Selain bidang komunikasi, bidang yang paling revolusioner dan harus disikapi berkaitan dengan etika adalah tekhnologi kedokteran seperti cloning manusia, rekayasa genetika, bayi tabung, dll. Yang jelas, masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan mengacu pada hukum Tuhan.
Dan yang ketiga, permasalahan moral bisa muncul terutama karena adanya kecenderungan besar untuk meninggalkan nilai-nilai yang sudah ada. Saya akan mengutip satu contoh pandangan yang berusaha untuk meninggalkan nilai-nilai ortodoks itu. dalam buku karangan ada 5 doktrin yang berusaha meninggalkan nilai-nilai yang sudah ada[2]:
1.    pandangan bahwa hidup manusia sebagaimana adanya tidak perlu dihormati secara khusus.
2.    Pandangan bahwa kebahagiaan dan kemalangan, kesenangan dan kesusahan, lebih penting dari hidup itu sendiri.
3.    Pandangan bahwa orang yang punya kesadaran diri dan taraf intelegensi tertentu saja yang mempunyai hak hidup.
4.    Pandangan bahwa untuk mempunyai keinginan, kebutuhan, dan hak-hak, orang harus terlebih dahulu punya konsepnya.
5.    Pandangan bahwa teori moral harus bersesuaian sejauh mungkin dengan apapun yang mempunyai nilai kepraktisan pada jamannya.

Berikut ini beberapa aliran-aliran dalam etika yang sekarang banyak berkembang dan diterapkan dalam berbagai bidang:

a. Hedonisme
Hedonisme merupakan neo-epichurean atau merupakan bentuk baru dari filsafat epichurus yang memang terkenal karena etikanya. Sejak kelahirannya, manusia berusaha mendapatkan kesenangan.  Manusia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Maka kesenangan itulah yang baik, dan ketidaksenangan adalah buruk. Menurut Aristippos (sekitar 433-355 sM) salah seorang murid Socrates, kesenangan bersifat badani dan aktual[3], bukan kesenangan dari masa lampau atau masa depan karena hanya sekadar ingatan dan antisipasi kesenangan. Artinya, yang baik adalah kesenangan saat ini dan di sini pada hari ini; bersifat badani, aktual dan individual. Kesenangan ada batasnya, yang penting adalah pengendalian diri. Pengendalian diri bukan berarti meninggalkan kesenangan, tapi menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terhanyut olehnya. Inilah persis kesenangan epichurean dengan makna hedonisme jaman sekarang. Begitu mendengar kata hedonis, maka yang terbayang biasanya adalah gaya hidup yang hura-hura dan dicap serba negatif.
Ephicuros misalnya, mengelompokkan keinginan dalam 3 macam. keinginan yang pertama adalah keinginan alamiah yang perlu, keinginan berikutnya adalah keinginan alamiah yang tidak perlu, dan keinginan yang ketiga adalah keinginan yang sia-sia. Contoh keinginan alamiah yang perlu adalah makan yang sehat. Sedangkan contoh keinginan yang tidak perlu adalah keinginan untuk makan enak. Perlu dicatat, untuk makan sehat biasanya tidak perlu enak. Makanan yang mahal juga tidak berarti sehat. Pun sebaliknya, makanan yang murah juga belum tentu sehat. Dan contoh ketiga untuk keinginan yang sia-sia adalah kekayaan. Epichuros sendiri justru menganjurkan hidup yang sederhana.

b. Eudomonisme
Aristoteles menganggap manusia mengejar tujuan akhir dan terbaik bagi hidupnya, yaitu kebahagiaan: eudaemonia. Tapi ia mengingatkan, kesenangan adalah semu dan bukan tujuan akhir yang ingin dicapai. Jika manusia menjalankan fungsinya dengan baik, ia akan mencapai tujuan akhirnya untuk menjadi manusia yang baik, dan itulah kebahagiaan hakiki, kesenangan rohani, intelektual (akal), dan keutamaan moral (budi).
Manusia adalah baik dari segi moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual. Didorong hati nurani, akal, budi, dan naluri, manusia menyusun konsepsi kebahagiaan pada berbagai bidang kehidupan. Pada setiap bidang kehidupan, manusia menetapkan nilai-nilai kebahagiaan. Dengan demikian,kebahagiaan bukan pertama-tama mengacu pada hal yang menyenangkan. Kebahagiaan harus dilihat dalam konteks bagaimana manusia memerankan dirinya dengan baik dan benar sesuai dengan kedudukannya. Pandangan ini agak mirip dengan kelompok deontologisme. Kelompok deontologisme berpendapat bahwa segala sesuatu baik sejauh mengikuti aturan yang ada.

c. Utilitarisme
Bagi utilitarisme, yang baik adalah yang berguna. Pandangan ini biasanya dikaitkan dengan konsekuensionalisme. Konsekuensialisme adalah bagian dari  teori etika normatif  yang mengatakan bahwa konsekuensi perilaku seseorang merupakan dasar utama untuk setiap penilaian tentang kebenaran perilaku itu. Jadi, dari sudut pandang konsekuensialis, tindakan secara moral benar adalah tindakan yang yang akan menghasilkan hasil yang baik, atau konsekuensi. Utilitarianisme berada pada tataran masyarakat atau negara. Jeremy Bentham[4] menekankan bahwa manusia sesuai hakikatnya ditempatkan di bawah dua titik yang berkuasa penuh: ketidaksenangan dan kesenangan. Kebahagiaan tercapai jika manusia memiliki kesenangan bebas dari kesusahan. Karena itu, suatu perbuatan akan dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan dan memenuhi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Menurut Bentham, moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia, yakni masyarakat keseluruhan.
Suatu perbuatan dapat dimaknai baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi semua orang. Dalam taraf yang ekstrim, pengorbanan sebagian orang dianggap hal yang wajar demi nilai guna yang lebih besar. Contohnya adalah upaya pembersihan kota yang harus menggusur para pedagang kaki lima.

[1] Contoh-contoh kasus yang terdapat dalam buku ini cukup menarik untuk dikaji, Higgins, Gregory C., 8 Dilema Moral Abad Ini: di pihak manakah anda?, Yogyakarta, Kanisius, 2006

[2] Jenny Teichmen, Etika Sosial,Yogyakarta, Kanisius, 2007, hal. 4
[3] "Makan, minum dan bergembira, karena besok kita mati." Bahkan sekilas keinginan harus memanjakan, karena takut kesempatan harus selamanya hilang. Ada sedikit atau tidak ada perhatian dengan masa depan, masa kini mendominasi dalam mengejar untuk kesenangan segera. Hedonisme Cyrenaic didorong mengejar kenikmatan dan kesenangan tanpa ragu-ragu, percaya kesenangan menjadi satu-satunya yang baik.

[4] Jeremy Bentham adalah filsuf pendiri utilitarianisme asal Inggris. Ia dilahirkan di London pada tahun 1748, menempuh pendidikan di Oxford, dan kemudian mendapatkan kualifikasi sebagai seorang barrister (advokat) di London.Bentham merupakan salah seorang filsuf empirisme dalam bidang moral dan politik

Senin, 27 Agustus 2012

faktor kehendak dalam Etika


Suatu ketika, ada seorang cewek yang matanya terkena debu. Lalu dia mengedip-ngedipkan matanya agar hilang rasa perihnya. Sayangnya, tindakan mengedip itu dilihat seorang cowok di dalam bus trans jakarta. Si cowok melihat bahwa kedipan itu menyampaikan pesan tertentu. Hingga, bergetarlah hatinya.
Ada yang bertanya, ini tindakan komunikasi bukan? Pertanyaan berikutnya, tindakan ini bisa dinilai secara moral tidak? Pasalnya, cewek itu sebenarnya sudah punya anak dan suami. Dalam kajian komunikasi dan moral, rupanya ini dua hal yang berbeda. Dalam ilmu komunikasi, kesengajaan bukan faktor yang menentukan[1]. Tapi dalam kasus etika, kesengajaan menjadi faktor yang sangat dipertimbangkan dalam penilaian. Penilaian ini disebut penilaian etis atau moral. Penguakan motif komunikasi menjadi tugas ahli komunikasi. Tugas etika adalah menguak kesengajaan untuk menilai moralitas baik-buruknya suatu tindakan.
Ilmu komunikasi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari usaha penyampaian pesan antarmanusia. Antarmanusia berarti ilmu ini hanya mengkaji komunikasi antarmanusia. Meskipun, dalam arti tertentu ada juga komunikasi dengan binatang, bahkan konon dengan jin. Usaha, artinya pesan yang disampaikan dilatari dengan kesengajaan, adanya motif komunikasi. Dalam kacamata etika, tanpa kesengajaan tidak ada penilaian baik-buruk. Jadi, bila ingin melakukan penilaian etis, harus ada kehendak bebas dalam memilih. Ada dua aliran filsafat mengenai kehendak bebas ini, yaitu determinisme dan anti determinisme.
Kelompok determinisme mengatakan bahwa tidak ada kehendak bebas dalam tindakan manusia. Mungkin agak sulit anda membayangkan bahwa ada pendapat yang mengatakan tidak ada kehendak bebas. Tapi, semoga contoh ini sedikit membantu anda untuk mengertinya.
Stella Maris menyantuni orang miskin karena dia punya harta berlebih agar suatu saat kelak dia bisa masuk sorga.
Maka, bagi kelompok determinis yang mengatakan bahwa tidak ada kehendak bebas akan mengatakan, meskipun Stella bisa memilih untuk tidak usah menyantuni orang miskin, namun toh masa lalunya dia itulah yang menentukan pilihannya. Itulah pengalamannya. Sementara hal lain yang mendorong dia melakukannya adalah tujuannya. Itulah sebabnya, ada orang yang mengatakan jika sorga dan neraka tak pernah ada, masih kau takut kepadaNya. Tujuan dan pengalaman sesorang, sangat menentukan dan mewarnai bagaimana dia akan bertindak.
Inilah aliran determinisme. Aliran ini menyatakan tidak ada kehendak bebas, segalanya telah ditentukan: setiap materi alam harus tunduk pada hukum alam. Karena pandangan ini berkaitan dengan materi alam, kelompok ini lazim disebut determinisme materialistis. Di Jerman, materialisme dirumuskan oleh Feuerbach[2]. Ia menyatakan, manusia adalah benda alam, pengetahuannya ialah pengalamannya, arah tujuannya adalah alamnya. Dalam perkembangannya, konklusi atau kesimpulan determinisme materialistis dapat dilihat pada ajaran Marxisme, yang menyatakan hidup manusia tertentukan oleh keadaan ekonomi. Segala hasil tindakan manusia tidak lain dari endapan keadaan, dan keadaan itu ditentukan oleh sejarah. Dalam agama seperti dialami oleh Stella tadi, berkembang determinisme religius. Tuhan Mahakuasa, kekuasaan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Kalaupun ada kehendak bebas pada manusia, kebebasan itu tentu terbatas, sehingga memilih sebagai hakikat kebebasan yang sesungguhnya tidak pernah ada. Teori ini masih sedikit lebih longgar dibandingkan pandangan predistinasi yang mengakui bahwa manusia hanyalah wayang yang hidupnya ditentukan oleh takdir dan kehendak Tuhan. Dalam psikologi, terdapat tiga teori determinisme yang diterima secara luas, sendiri-sendiri atau kombinasi, untuk menjelaskan sifat manusia. Ketiganya yaitu determinisme genetis, determinisme psikis, dan determinisme lingkungan.
Determinisme genetis berarti bagaimana seseorang memilih dan bersikap, sangat dipengaruhi unsur gennya secara biologis. Dalam ilmu genetis, diketahui bahwa genetika manusia memuat kode-kode tertentu yang menunjukkan bahwa seseorang bisa punya kecenderungan besar berkaitan dengan sifatnya. Misalnya, gen pemarah, gen cerdas, dll[3]. Determinisme psikis berarti bahwa tindakan seseorang, termasuk pilihannya, sangat dipengaruhi oleh keadaan jiwanya. Misalnya, orang yang sedang dalam keadaan senang, biasanya akan lebih mudah berbuat baik. Sedangkan, orang yang sedang dalam keadaan marah, tindakannya cenderung tidak baik. Sementara itu, determinisme lingkungan berpendapat bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada tindakan seseorang. Anda, seakan-akan ditentukan tindakan dan penilaian anda oleh lingkungan sekitar anda. Bagaimana anda, sangat tergantung oleh tempat tinggal anda.
Aliran berikutnya adalah pandangan dari anti-determinisme. Mereka mengatakan bahwa tetap ada kehendak bebas dalam tindakan manusia. Apa yang disampaikan oleh kaum determinisme di atas memang ada benarnya. Sebagai materi alam, manusia mutlak terikat pada hukum-hukum alam. Ia baru bisa melakukan sesuatu, sejauh alam sekitarnya dan hidupnya mendukung pilihannya. Peralatan jasmani manusia yang bersifat materi takluk pada hukum-hukum alam. Namun, roh manusia beserta peralatannya—hati nurani, akal, dan budi—tetap dapat menentukan pilihan-pilihan atas tidakannya. Manusia dengan akal budinya tidak takluk begitu saja pada hukum-hukum alam, bahkan manusia dapat menaklukkan alam.
Henri Bergson[4] berpendapat bahwa hidup merupakan tenaga eksplosif yang ada sejak awal dunia. Sebagian tunduk kepada materi, sedangkan yang lain tetap memiliki kemampuan untuk berbuat secara bebas sesuai kehendaknya, dan terus bergerak keluar dari genggaman materi. Naluri bekerja secara otomatis. Akal mencakapkan manusia untuk menyadarkan diri akan kepentingan individu manusianya. Akal amat berguna  bagi pendalaman hakikat sesuatu. Pada manusia, naluri berkembang menjadi intuisi. Intuisi merupakan tenaga rohani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri dari akal. Manusia memiliki peralatan rohaniah berupa hati nurani, akal, budi, dan naluri Peralatan rohaniah ini menghasilkan falsafah hidup, konsepsi kebahagiaan, dan motif komunikasi. Herbert Blumer[5] berpendapat manusia bukan semata-mata organisme yang bergerak di bawah pengaruh stimulus, baik dari dalam maupun dari luar, melainkan organisme yang sadar akan dirinya.
Dengan diakuinya kehendak bebas, berarti ada kesengajaan. Walau tidak selalu dapat menunjukkan batas-batasnya dengan mudah, kita dapat membedakan mana tindakan yang disengaja dan yang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kesengajaan menjadi dasar penilaian terhadap kesalahan manusia.

Sampai di sini, kita harus memilih dua di antara teori ini untuk menilai secara moral. Maka, teori anti determinisme inilah yang bisa kita terima tanpa mengabaikan adanya kebenaran manusia sebagai bagian dari alam. Hal inilah nanti yang akan menjadi dasar kita untuk menilai sebuah tindakan moral. Tindakan Moral adalah perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja dan terkait dengan penilaian baik dan buruk. Inilah yang dipersoalkan oleh etika. Manusia dapat menentukan tindakan, ia dapat memilih tindakannya. Namun, yang dinilai etika hanya tindakan yang terkait moral. Manusia dengan kehendak bebas dapat melakukan pilihan moral. Namun demikian, kita harus tetap terbuka pada adanya suatu situasi yang mungkin mengurangi atau bahkan menghilangkan kehendak bebas. Ada faktor internal dan faktor eksternal yang membatasi kebebasan dan kesengajaan tindakan manusia.
Faktor internal dalam diri manusia, misalnya : ketakutan, kegelisahan, kebingungan, nafsu, dan kebiasaan. Sementara faktor eksternal yang mungkin menghambat kehendak bebas, misalnya : intimidasi, ancaman, paksaan, siksaan fisik maupun mental, atau penyakit. Penilaian moral diartikan sebagai penilaian atas suatu tindakan moral. Dalam hal ini, yang menilai adalah budi manusia, dan yang memutuskan serta menghakimi adalah hati nurani. Artinya, alat yang berfungsi sebagai penilai moralitas adalah budi dan diputuskan oleh hati nurani manusianya sendiri.

[1] Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar, hal. 66
[2] Ludwig Andreas von Feuerbach (lahir 28 Juli 1804 – meninggal 13 September 1872) adalah seorang  filsuf  dan  antropolog  Jerman. Setelah belajar selama dua tahun, pengaruh Hegelian mulai melemah. Feuerbach kemudian berhubungan dengan kelompok yang dikenal sebagai Hegelian Muda, yang mensintesiskan cabang yang radikal dari filsafat Hegel. 
[3] Dalam buku The Divine Massage of DNA, dikatakan bahwa yang genetis ini bisa diaktifkan dan bisa juga ditutup keaktifannya, semacam tombol on-of genetik. Mirakami, Kazuo, The Divine Massage of DNA, Bandung, Mizan, 2007
[4] Henri-Louis Bergson (lahir di Paris, Perancis, 18 Oktober 1859 – meninggal di Paris,Perancis, 4 Januari  1941  pada umur 81 tahun) merupakan seorang filsuf Perancis yang berpengaruh besar terutama pada awal abad ke 20. Ia lahir  dari seorang ibu berdarah Inggrisdan seorang ayah berdarah Yahudi Polandia. Sebagian besar masa produktifnya dihabiskannya sebagai seorang dosen filsafat dan seorang penulis. Bergson pernah memperoleh  nobel  untuk sastra pada 1927. Bergson, Henry, Time and Free Will, An Eassy on The Immediate Data of Consiousness, New York, Kessinger Publishing, 1995
[5] George Herbert Mead (1863-1931) seorang filsuf Universitas Chicago dan tokoh psikologi sosial. Setelah Mead meninggal, Herbert Blumer, yang juga merupakan salah satu sosiolog di Universitas Chicago, mengambil alih seluruh karyanya serta membenahi teori sosialnya dan menamai gagasan Mead tersebut: interaksionisme simbolik. Blumer sendiri juga terpengaruh oleh pemikiran Herbert Mead tentang interaksionisme simbolik. Karya Blumer yang terkenal dalam perspektif teori ini adalah kumpulan esainya yang berjudul Symbolic Interactionism: Perspective and Method. 

Menggali Ortodoksi Moral


Berhadapan dengan adanya pluralisme moral, etika berfungsi untuk menggali kembali ortodoksi moral sehingga terbangun sebuah moral fundamental atau moral dasar yang sifatnya universal. Ortodoksi adalah nilai-nilai yang lebih asali berkaitan dengan hakekat moral itu sendiri. Moral fundamental bukanlah moral gabungan dari berbagai ajaran yang ada, bukan pula sebuah upaya untuk mendamaikan pertentangan moral, namun lebih berupaya untuk memberikan argumentasi yang lebih mendasar berkaitan dengan kebaikan moral.
Contohnya adalah hidup manusia. Di sebagian ajaran mengatakan bahwa hidup manusia harus dibela dan dijamin karena menjadi hak dasar manusia untuk mendapatkan hak-hak yang lainnya yang lebih memadai. Di satu sisi, ada ajaran moral yang tidak begitu memperhitungkan nilai kehidupan manusia karena asas nilai guna (utility). Namun, seperti saya contohkan tadi, ada juga sebagian masyarakat adat yang melegalkan pembunuhan seseorang yang merupakan anggota kelompok musuh, meskipun anak kecil sekalipun. Hal itu masih ada kajian etis dari para filosof yang merelatifir nilai kehidupan manusia. Maka, mau tidak mau kita harus memilih dan mengkaji,kira-kira ajaran moral yang manakah yang paling bisa berlaku secara universal.
Dalam bidang moral, dikenal sebuah hukum yang disebut dengan slippery slope[1]. Slippery slope (lereng yang curam) biasa dikenal juga dengan crack in the foundation (celah fondasi) merupakan hukum yang mengatakan bahwa jika Anda membuat pengecualian terhadap aturan, atau jika Anda membuat peraturan yang bergantung pada perbedaan halus, dengan segera orang akan mengabaikan aturan atau aturan yang sama sekali karena mereka tidak akan menerima perbedaan antara pengecualian dan yang lainnya. Artinya, jika kita melonggarkan satu prinsip moral yang meskipun berupa pengecualian, kebanyakan orang akan segera yang mengikuti pengecualian ini tanpa memperhatikan nilai-nilai moral yang lebih mendasar.
Marilah kita ambil contoh doktrin ketiga dari kelompok liberal di atas, Pandangan bahwa orang yang punya kesadaran diri dan taraf intelegensi tertentu saja yang mempunyai hak hidup. Maka, dalam pandangan ini, orang-orang gila yang intelegensinya terlalu rendah, tidak bisa diberikan hak hidup. dari segi utility, atau nilai gunanya, pandangan ini tentu sangat berguna bagi kebanyakan orang. Orang dengan intelegensi kelewat rendah, lebih banyak merepotkan orang lain. Mereka tidak berperan apapun dalam pembangunan bernegara. Dan yang jelas, orang-orang ini tidak bisa disembuhkan. Lalu, apakah demi pembangunan kwalitas masyarakat mereka boleh dimusnahkan? Kalau mereka boleh untuk dimusnahkan, lalu apakah boleh adanya pembunuhan dengan alasan kwalitas manusia yang tidak memadai? Bolehkah orang-orang dengan intelegensi kelewat rendah ini dibedah otaknya dan dijadikan bahan penelitian di laboratorium?
Akibat lain yang bisa muncul, embrio yang belum memiliki otak dan bahkan yang sudah memiliki otak namun belum punya intelegensi, harus dikatakan belum memiliki hak hidup secara penuh. Lalu, apakah mereka boleh diaborsi? Maka marilah kita lihat efek lebih lanjutnya, kalau mereka boleh diaborsi, lalu haruskah aborsi dilegalkan dengan alasan hak hidup embrio belum penuh? Kalau ini dilegalkan, lantas bolehkah kita yang merasa normal lalu menyeleksi bayi yang akan dilahirkan? Itulah efek dari tebing yang curam.
Argumen slippery slope ini jelas tidak valid jika itu dimaksudkan untuk menjadi titik logika. Dalam hal ini  berarti bahwa "jika b merupakan pengecualian terhadap A, maka tidak ada bagian dari A adalah benar." Pengecualian khusus untuk aturan atau prinsip tidak dengan cara apapun secara logis berarti bahwa aturan tersebut dinyatakan tidak pernah dibenarkan berlaku dalam setiap kasus. Bahkan, menyebut sesuatu pengecualian "
Tampaknya argumen ini dimaksudkan untuk menjadi lebih argumen tentang psikologi masyarakat, dan tampaknya menjadi sesuatu yang lebih seperti "jika Anda membuat pengecualian terhadap aturan, khususnya aturan dihargai atau waktu dihormati, orang akan berpikir memerintah sewenang-wenang untuk memulai dan akan melihat ada alasan untuk mengikutinya. " Oleh karena itu, setiap pengecualian terhadap aturan, dan dengan demikian akhirnya menyebabkan aturan tidak diikuti sama sekali. Atau argumen lain dimaksudkan mungkin "orang tidak dapat secara umum membuat perbedaan halus, jadi jika Anda membuat pengecualian terhadap aturan (waktu dihormati), orang akan berpikir Anda telah menunjukkan aturan untuk menjadi cacat dan karena itu tidak perlu untuk diikuti." Versi yang sedikit berbeda, dan lebih canggih adalah prinsip ini "jika Anda membuat pengecualian terhadap aturan, orang akan menggeneralisasi alasan untuk pengecualian itu dan menerapkannya pada aspek lain dari aturan yang mereka generalisasi juga akan berlaku."
Contoh yang sederhana dalam hal komunikasi adalah demikian, memfitnah (dalam arti bahasa Indonesia[2]) adalah jahat secara moral. Tapi bayangkan bila kemudian ada yang mengatakan, fitnah untuk seorang calon presiden yang baik agar lolos dalam pemilu, boleh karena tujuannya baik. Orang akan segera mencari alasan untuk mengatakan bahwa tujuannya baik, yang penting fitnahnya diperbolehkan. Ini akan sangat berbahaya. Sesegera mungkin, kebanyakan orang akan mengatakan bahwa finah itu boleh. Maka, untuk menghindari hal ini, pentinglah bagi kita untuk kembali ke ortodoksi moral. Masalah moral kalau di’abai’kan, akan memicu permasalahan-permasalahan lain yang lebih serius[3]

[1] Bdk. Lamb, David, Down The Slippery Slope, Arguing on Applied Ethics, London, Routledge, 1988,
[2] Memfitnah dalam bahasa Arab memiliki arti mencobai, agak berbeda maknanya dengan bahasa Indonesia yang artinya menyebarkan berita yang tidak benar.
[3] Prinsip moral slippery slope seolah bertentangan dengan apa yang disebut oleh Joseph Fletcher dengan apa yang disebut sebagai etika situasi. Dalam etika situasi memang dikenal istilah prima facie (yaitu tindakan moral tanpa pertimbangan khusus, dan etika norma (pertimbangan moral dengan kasus khusus). Pijakan filosofisnya adalah eksistensialisme. Namun, keduanya sebenarnya berada dalam satu garis yang tidak bertentangan. Tentang Etika Situasi, silahkan dilihat dalam Suseno, Frans Magnis, 12 Tokoh Etika Abad ke 20, Yogyakarta, Kanisius, 2000, 111