Kamis, 06 September 2012

DILEMA MORAL


Dilema Moral[1]

Lampu merah di perempatan jalan barang kali tidak diperlukan kalau saja jalanan lancar, juga di perempatan. Tapi karena jalanan kurang lancar, pengguna kendaraan tidak bisa mengatur diri dan antri dengan otomatis, maka diperlukanlah lampu merah. Sebenarnya juga, tidak diperlukan polisi yang berjaga di perempatan yang ada lampu merahnya, kalau saja masyarakat mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada dan jalanan sudah lancar. Permasalahan kemudian berkembang, tidak diperlukanlah sebenarnya pengawas kerja polisi lalu lintas, kalau saja semua polisi bekerja secara profesional tidak menerima suap dari pelanggar lalu-lintas atau tidak menjamin adanya keadilan dalam masyarakat. Tetapi, dari semua itu sebenarnya ada satu kuncinya, tidak perlulah ada semua itu, sejauh tidak ada kemacetan. Tapi toh, nyatanya kenyataan itu terjadi. Jalanan macet. Masyarakat suka melanggar lalu lintas dengan berbagai alasan. Ada oknum polisi yang suka memanfaatkan keadaan hingga menyalahgunakan wewenang. Lalu disusunlah peraturan yang harus dipatuhi bersama. Sekali lagi, semuanya tidak diperlukan kalau saja semuanya lancar dan berjalan normal.
Demikian halnya, permasalahan moral terjadi karena ada tabrakan-tabrakan nilai-nilai moral yang menyebabkan manusia harus memilih dan menentukan sikap. Seiring dengan perkembangan jaman, permasalahan-permasalahan yang barupun bermunculan. Tapi, saya rasa baik kalau kita sedikit mengkaji, dari mana akar permasalahan dilema moral itu bisa muncul. Paling tidak ada 3 hal pokok yang mempengaruhi adanya permasalahan moral. Yang pertama, adanya pluralisme sumber-sumber moral. Yang kedua adanya relativisme nilai kebenaran. Dan yang ketiga, adanya kebutuhan manusia yang dalam arti tertentu memaksa manusia meninggalkan prinsip-prinsip moralnya.
Paling tidak ada tiga sumber moral yang bahkan bisa bertabrakan antara satu dengan yang lain. Ketiga sumber moral itu adalah agama, masyarakat, dan negara. Agama bagaimanapun juga memegang peranan penting dalam mengajarkan moral. Ini tidak dapat kita sangkal. Berkaitan dengan agama maka yang jahat dikatakan sebagai sebuah dosa dan yang baik dikatakan sebagai amal saleh. Namun kenyataannya toh, kita tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa ada banyak agama. Sementara, ajaran agama ini bisa ditafsirkan secara sangat relatif bagi kebanyakan orang, ada juga yang akhirnya tidak mempercayai agama. Di dalam satu agama saja, konflik nilai moral bisa terjadi, apalagi berhadapan dengan orang-orang yang beragama lain dan mereka menganggap ini adalah sesuatu yang baik. Contohnya, ada agama yang mengatakan bahwa membunuh binatang itu jahat. Ada yang mengatakan tidak jahat, sejauh cara membunuhnya tidak menyiksa si binatang. Hal ini akan menimbulkan konflik moral yang harus disikapi dengan bijaksana akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar. Ingat, dalam keadaan yang biasa tidak akan menimbulkan permasalahan, tapi ketika ada pertentangan, etika sebagai filsafat moral harus dikaji.
Sementara itu, negara bisa juga memberikan ajaran moral yang dalam bentuk hukum dan perundang-undangan. Tidak semua ajaran agama bisa memadai untuk merumuskan ajaran moral suatu agama yang berlain-lainan. Bahkan, apa yang diajarkan oleh negara bisa sangat bertentangan dengan ajaran agama. Contohnya adalah pelegalan aborsi dan perkawinan sejenis. Ada beberapa negara yang melegalkan tindakan tersebut. Namun, hal ini tidak bisa secara tuntas menyelesaikan permasalahan moral.
Masyarakat dengan adatnya  juga memiliki ajaran moral tersendiri. Kita tahu, adat suatu masyarakat biasanya ada terlebih dahulu dibandingkan dengan agama dan negara. Itulah sebabnya, mengapa kebiasaan adat yang dinilai biadab tidak mudah untuk dihapuskan hanya dengan adanya negara dan agama. Contohnya adalah adanya kebiasaan mengayau dalam suatu daerah. Tanpa memandang bagaimana sikap orangnya, asalkan berasal dari kelompok musuh lalu seakan-akan kelompok tertentu berhak untuk melakukan pembunuhan di pihak musuh.
Permasalahan moral yang kedua bisa terjadi karena adanya relatifisme untuk menentukan nilai kebenaran. Dalam hal ini pertimbangannya jauh lebih filosofis. Banyaknya hal-hal baru, terutama berkaitan dengan tekhnologi, menuntut sebuah study khusus yang membahas hal tersebut. di bidang komunikasi, munculnya media massa dalam bentuk cetakan dan juga elektronik, bagaimanapun juga harus dikaji segi etisnya. Pada jaman kerajaan majapahit, misalnya, di Indonesia, tidak diperlukan kajian etis tentang iklan. Tapi, hal ini tidak bisa diabaikan untuk jaman sekarang. Selain bidang komunikasi, bidang yang paling revolusioner dan harus disikapi berkaitan dengan etika adalah tekhnologi kedokteran seperti cloning manusia, rekayasa genetika, bayi tabung, dll. Yang jelas, masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan mengacu pada hukum Tuhan.
Dan yang ketiga, permasalahan moral bisa muncul terutama karena adanya kecenderungan besar untuk meninggalkan nilai-nilai yang sudah ada. Saya akan mengutip satu contoh pandangan yang berusaha untuk meninggalkan nilai-nilai ortodoks itu. dalam buku karangan ada 5 doktrin yang berusaha meninggalkan nilai-nilai yang sudah ada[2]:
1.    pandangan bahwa hidup manusia sebagaimana adanya tidak perlu dihormati secara khusus.
2.    Pandangan bahwa kebahagiaan dan kemalangan, kesenangan dan kesusahan, lebih penting dari hidup itu sendiri.
3.    Pandangan bahwa orang yang punya kesadaran diri dan taraf intelegensi tertentu saja yang mempunyai hak hidup.
4.    Pandangan bahwa untuk mempunyai keinginan, kebutuhan, dan hak-hak, orang harus terlebih dahulu punya konsepnya.
5.    Pandangan bahwa teori moral harus bersesuaian sejauh mungkin dengan apapun yang mempunyai nilai kepraktisan pada jamannya.

Berikut ini beberapa aliran-aliran dalam etika yang sekarang banyak berkembang dan diterapkan dalam berbagai bidang:

a. Hedonisme
Hedonisme merupakan neo-epichurean atau merupakan bentuk baru dari filsafat epichurus yang memang terkenal karena etikanya. Sejak kelahirannya, manusia berusaha mendapatkan kesenangan.  Manusia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Maka kesenangan itulah yang baik, dan ketidaksenangan adalah buruk. Menurut Aristippos (sekitar 433-355 sM) salah seorang murid Socrates, kesenangan bersifat badani dan aktual[3], bukan kesenangan dari masa lampau atau masa depan karena hanya sekadar ingatan dan antisipasi kesenangan. Artinya, yang baik adalah kesenangan saat ini dan di sini pada hari ini; bersifat badani, aktual dan individual. Kesenangan ada batasnya, yang penting adalah pengendalian diri. Pengendalian diri bukan berarti meninggalkan kesenangan, tapi menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terhanyut olehnya. Inilah persis kesenangan epichurean dengan makna hedonisme jaman sekarang. Begitu mendengar kata hedonis, maka yang terbayang biasanya adalah gaya hidup yang hura-hura dan dicap serba negatif.
Ephicuros misalnya, mengelompokkan keinginan dalam 3 macam. keinginan yang pertama adalah keinginan alamiah yang perlu, keinginan berikutnya adalah keinginan alamiah yang tidak perlu, dan keinginan yang ketiga adalah keinginan yang sia-sia. Contoh keinginan alamiah yang perlu adalah makan yang sehat. Sedangkan contoh keinginan yang tidak perlu adalah keinginan untuk makan enak. Perlu dicatat, untuk makan sehat biasanya tidak perlu enak. Makanan yang mahal juga tidak berarti sehat. Pun sebaliknya, makanan yang murah juga belum tentu sehat. Dan contoh ketiga untuk keinginan yang sia-sia adalah kekayaan. Epichuros sendiri justru menganjurkan hidup yang sederhana.

b. Eudomonisme
Aristoteles menganggap manusia mengejar tujuan akhir dan terbaik bagi hidupnya, yaitu kebahagiaan: eudaemonia. Tapi ia mengingatkan, kesenangan adalah semu dan bukan tujuan akhir yang ingin dicapai. Jika manusia menjalankan fungsinya dengan baik, ia akan mencapai tujuan akhirnya untuk menjadi manusia yang baik, dan itulah kebahagiaan hakiki, kesenangan rohani, intelektual (akal), dan keutamaan moral (budi).
Manusia adalah baik dari segi moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual. Didorong hati nurani, akal, budi, dan naluri, manusia menyusun konsepsi kebahagiaan pada berbagai bidang kehidupan. Pada setiap bidang kehidupan, manusia menetapkan nilai-nilai kebahagiaan. Dengan demikian,kebahagiaan bukan pertama-tama mengacu pada hal yang menyenangkan. Kebahagiaan harus dilihat dalam konteks bagaimana manusia memerankan dirinya dengan baik dan benar sesuai dengan kedudukannya. Pandangan ini agak mirip dengan kelompok deontologisme. Kelompok deontologisme berpendapat bahwa segala sesuatu baik sejauh mengikuti aturan yang ada.

c. Utilitarisme
Bagi utilitarisme, yang baik adalah yang berguna. Pandangan ini biasanya dikaitkan dengan konsekuensionalisme. Konsekuensialisme adalah bagian dari  teori etika normatif  yang mengatakan bahwa konsekuensi perilaku seseorang merupakan dasar utama untuk setiap penilaian tentang kebenaran perilaku itu. Jadi, dari sudut pandang konsekuensialis, tindakan secara moral benar adalah tindakan yang yang akan menghasilkan hasil yang baik, atau konsekuensi. Utilitarianisme berada pada tataran masyarakat atau negara. Jeremy Bentham[4] menekankan bahwa manusia sesuai hakikatnya ditempatkan di bawah dua titik yang berkuasa penuh: ketidaksenangan dan kesenangan. Kebahagiaan tercapai jika manusia memiliki kesenangan bebas dari kesusahan. Karena itu, suatu perbuatan akan dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan dan memenuhi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Menurut Bentham, moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia, yakni masyarakat keseluruhan.
Suatu perbuatan dapat dimaknai baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi semua orang. Dalam taraf yang ekstrim, pengorbanan sebagian orang dianggap hal yang wajar demi nilai guna yang lebih besar. Contohnya adalah upaya pembersihan kota yang harus menggusur para pedagang kaki lima.

[1] Contoh-contoh kasus yang terdapat dalam buku ini cukup menarik untuk dikaji, Higgins, Gregory C., 8 Dilema Moral Abad Ini: di pihak manakah anda?, Yogyakarta, Kanisius, 2006

[2] Jenny Teichmen, Etika Sosial,Yogyakarta, Kanisius, 2007, hal. 4
[3] "Makan, minum dan bergembira, karena besok kita mati." Bahkan sekilas keinginan harus memanjakan, karena takut kesempatan harus selamanya hilang. Ada sedikit atau tidak ada perhatian dengan masa depan, masa kini mendominasi dalam mengejar untuk kesenangan segera. Hedonisme Cyrenaic didorong mengejar kenikmatan dan kesenangan tanpa ragu-ragu, percaya kesenangan menjadi satu-satunya yang baik.

[4] Jeremy Bentham adalah filsuf pendiri utilitarianisme asal Inggris. Ia dilahirkan di London pada tahun 1748, menempuh pendidikan di Oxford, dan kemudian mendapatkan kualifikasi sebagai seorang barrister (advokat) di London.Bentham merupakan salah seorang filsuf empirisme dalam bidang moral dan politik

Tidak ada komentar: